Cinta Segi Enam
Karya : Nur Eka Putri
Aku mengakuinya, semua yang selama ini selalu ku bantah. Sekarang aku berani mengatakannya. Berani berkata bahwa aku menyukainya. Mulai sekarang, aku tidak akan menutupinya lagi. Aku tidak peduli apa kata orang, yang penting aku menikmatinya.
Walau aku harus bersaing dengan temanku sendiri. Aku Everlyn,atau biasa di panggin Elyn mengakui bahwa aku menyukai Vian, cowok pintar idaman banyak orang yang sekelas denganku. Ini berita yang menghebohkan bukan?? Banyak orang bilang aku adalah anak yang sadis, cuek, dan tak mau tau keadaan di sekitarnya. Kini aku mengakui dengan teang-terangan akan bersaing secara sehat dengan Sasha, salah satu teman yang cukup dekat denganku. Kisah yang klise, dimana dua orang yang lumayan dekat menyukai orang yang sama. Tapi beruntung, karena kami masih berteman baik hingga saat ini.
Fany, sahabatku selalu tertawa bila mengingat rentetan kejadian yang melibatkan kami bertiga, aku, Vian, dan Sasha. Mungkin baginya semua itu lucu. Dia bilang "seolah waktu dan perhatian Vian itu emang udah dibagi se-demikian rupa buat kalian berdua,ya.."
Bagaimana tidak, nih misalnya kejadian di ruang keterampilan kemarin. Tinggal ada Vian dan Sasha di ruangan itu. Iseng, Vian berlari hendak meninggalkan Sasha namun untuk mencegahnya Sasha menarik dasi Vian hingga terlepas. Kejadian yang romantis bukan..?? Saat itu aku memang sedikit cemburu atas tindakan Sasha. Namun setelah itu,Vian menolak tawaran Sasha untuk membetulkan dasinya. Ia malah dengan santainya menghampiriku di kelas. Lalu ia berdiri di hadapanku dan dengan lembut memintaku membetulkan sekaligus memasangkan dasinya. Setelah dasinya sudah terpasang sempurna, ia menggandengku untuk pulang bersama. Dia mungkin tidak tau kalau hatiku merasa dag-dig-dug, tak karuan sekali.
Lalu, dua hari sebelumnya, sepulang sekolah hujan turun dengan lebatnya. Untung aku membawa payung. Rencananya aku ingin mengajak Sasha bereng denganku karena rumahnya terlewati olehku. Namun,seperti pahlawan kesiangan,Vian meminjamkan payungnya pada Sasha, lalu melepas jaketnya dan memberikannya padaku. Ia memintaku memakai jaket itu, aku ingin menolak tapi aku tau Vian tidak suka dibantah. Jadilah aku pulang sepayung berdua dengan Vian, berjalan beriringan menembus hujan. Romantis sekali. Dan masih anyak lagi kejadian serupa. Menurutku, itu cukup adil karena Vian tau kalau aku dan Sasha sama-sama menyukainya. Dia banyak membuatku merasa nyaman bila ada di sisinya.
Aku tau Sasha merasakan hal yang sama. Makanya kami sering curhat mengenai sikap Vian pada kami. Vian memang membuat kami terbang melayang diangkasa. Tak terasa,1 tahun berlalu dan kami masih dalam keadaan yang sama. Semua berjalan lancar tanpa kendala. Namun,kabar kedekatan Vian dengan Risa sedikit benyak membuatku dan Sasha cemburu dan kesal padanya.Ada rasa tidak terima di hati kami.Kami dengan sengaja merusak kedekatan mereka.Jahat memang,tapi kami benar benar tidak suka."lebih baik Vian sama Fany dari pada sama Risa." kataku..Fany tidak terima mendengar itu karena dia sama sekali tidak tertarik pada Vian karena sikapnya yang tidak tegas."ihh,sampe kapanpun aku gak mau ya kalo sama Vian,ketularan lemes nanti aku.." begitu katanya.
Tapi,lama kelamaan sikap Vian berubah drastis.Baik aku maupun Sasha sama-sama merasakan iu.Perhatiannya menjelma menjadi sikap sedingin es.Vian seakan sudah tidak mau kenal dengan kami lagi,aku bingung kenapa ia bersikap seperti itu.Apa mungkin aku melakukan kesalahan fatal hingga dia membenciku,tapi apa???
Hampir 1 th keadaan itu terjadi dan kami bertiga mulai jarang mengobrol hingga aku tidak tau bagaimana sekarang.Tapi anehnya,dalam keadaan seperti itupun,aku masih bertahan.Fany bilang aku ini bodoh,karena mau bertahan padahal sudah dilupakan.Aku tak peduli,aku hanya bilang bahwa aku bukannya tidak mau move on,tapi aku bertahan karena belum dapat pengganti.
Namun rupanya,keadaan setelah itu memihak padaku.Aku mulai menyukai Fandi,orang yang cukup dekat dengan Vian.Rasa itu datang di celah celah rasa sukaku pada Vian hingga akhirnya rasa lama itu menghilang.Mungkin dunia memang sempit,buktinya kabar yang ku dengar ini sangat mengejutkanku.Aku tak menyangka bahwa ternyata selama ini Vian menyimpan rasa pada Fany,sahabatku itu.Bahkan sejak tahun kedua mereka sekelas,yaitu kelas 8. Bayangkan...!!! sudah SATU TAHUN LEBIH...!!!
Aku heran pada Fany,tidakkah dia memikirkan perasaanku saat dia dengan santainya berkata bahwa gosip itu memang benar.Walau aku percaya padanya kalau dia tidak mungkin jadian dengaan Vian.Karena aku tau,dihatinya hanya ada Febby seorang.Lagi pula aku sudah tidak suka Vian bukan??tanyanya..
Memang perkataannya benar.Tapi,walau sulit aku harus mengakui bahwa aku masih menyimpan sedikit rasa pada Vian di hatiku.Hati tidak pernah bohong bukan??
Tapi bagaimanapun juga,aku harus menerima kenyataan bahwa orang yang pernah aku suka ternyata menyimpan rasa pada sahabatku sendiri.Itu bukan salah Fany,jadinya ku langsung memeluk dan minta maaf bila aku menyakitinya dengan marah padanya tadi.
Aku dan Fany memang sama.Kami sama sama menyukai seseorang namun tak kunjung bisa mendapatkannya.Tapi bedanya,kalau aku menyukai secara terang terangan.Sadangkan Fany,dia memilih untuk menjadi secret admirer saja.Dia lebih suka mengagumi dari jauh tanpa harus di pojok-pojokkan oleh teman-temannya."lebih tentram..." gitu katanya.
Aku jadi penasaran,setelah mendengar berita heboh ini,bagaimana perasaan Sasha??aku sudah lama tidak curhat dengan dia.Mungki dia sudah punya pengganti Vian,sama sepertiku.Atau mungkin dian masih menyimpan rasa itu dalam hatinya karena sudah tidak ada teman untuk berjuan mendapatkan Vian.Teman,sekaligus saingannya,yaitu aku.Aku sekarang juga harus gigit jari karena Fandi menyukai orang lain.Yah...nasibku,Fany,dan Sasha memang tak jauh berbeda.Kami sama-sama tidak bisa memiliki orang yang kami suka.Vian pun begitu,dia tak mungkin mendapatkan Fany yag notabene tidak pernah ada rasa untuknya.Dia juga tidak bisa memilih salah satu diantara aku dan Sasha karena mungkin kami sudah punya pengganti dirinya.Dan Vian juga tau,jika dia mengambil opsi kedua tadi maka ia hanya akan menyakiti perasaan mereka.
Aku tau,bagaimanapun kita berusaha mencintai seseorang yang tidak pernah sedikitpun hatinya memikirkan kita,hanya sakit yang akan di dapat.Buktinya,tak ada satupun diantara kami yang kisahnya berakhir bahagia.Kami hanya berusaha melupakannya dan hanya mengenang kenangan indah yang pernah ada.Seperti itulah yang aku lakukan.Menyimpan kenangan hanya untuk mengingatkan bahwa kita pernah saling kenal,pernah punya kenangan indah.Kenangan yang tidak akan aku lupakan,terutama kenanganku dengan Vian.Entah kenapa dia masih saja terpatri dalam hatiku.Aku berharap hari esok akan baik-baik saja.Karena mungkin setelah lulus nanti kami akan berpisah,dan mungkin akan bertemu kembali dalam suasana yang berbeda.
Semoga....Semoga saja...